WASHINGTON (Arrahmah.id) – Penulis Amerika, Thomas Friedman, menggambarkan Presiden Donald Trump sebagai tipe orang yang lebih mengandalkan intuisinya dalam menjalankan tugas, daripada berpikir secara logis.
Friedman menyatakan bahwa hal yang paling menakutkan dari perilaku Trump adalah ketergantungannya yang besar pada intuisi saat bertaruh bahwa ia bisa mengubah secara radikal cara kerja lembaga-lembaga Amerika, serta membalik pola hubungan AS dengan sekutu dan musuhnya sekaligus—yaitu menjadikan Amerika lebih kuat dan makmur, sementara dunia lainnya harus menyesuaikan diri dengan tatanan baru tersebut.
Berdasarkan pengantar itu, Friedman dalam artikelnya di New York Times menganalisis kinerja Trump selama empat bulan pertama masa jabatan keduanya dan membedah kebijakan luar negerinya.
Intuisi Bukan Pengganti Logika
Friedman menyindir kemampuan Trump dalam memahami berbagai isu kompleks hanya berdasarkan intuisi pribadinya. Ia menyinggung bahwa di hari yang sama saat Trump mengumumkan kenaikan tarif impor besar-besaran, ia juga mengundang aktivis media Laura Loomer ke Kantor Oval—seorang penganut teori konspirasi yang meyakini bahwa serangan 11 September 2001 adalah “tindakan dari dalam”.
Trump, lanjut Friedman, ingin menjadikan Amerika dan dunia lebih makmur, padahal zaman sekarang—meskipun jauh dari sempurna—dianggap oleh para sejarawan sebagai salah satu era paling damai dan makmur secara relatif dalam sejarah umat manusia.
Friedman kemudian memuji keunggulan era “damai” ini yang didukung oleh jaringan globalisasi dan perdagangan yang tertata rapi, yang menurutnya dimungkinkan karena adanya kekuatan dominan, yakni Amerika Serikat, yang hidup damai dan terhubung secara ekonomi dengan musuh terbesarnya—China.
Berkat Perdagangan Bebas
Friedman mengatakan bahwa China berhasil mengangkat jutaan orang dari kemiskinan lebih cepat daripada negara mana pun dalam sejarah, berkat kemampuannya mengekspor barang secara masif melalui sistem perdagangan bebas global yang dibentuk oleh Amerika Serikat.
Ia juga menyebutkan bahwa Amerika beruntung bertetangga dengan dua negara demokratis yang bersahabat, yaitu Kanada dan Meksiko, di mana ketiganya membentuk jaringan rantai pasok yang menjadikan mereka semua lebih sejahtera.
Menurut Friedman, kemakmuran dunia saat ini juga berkat aliansi antara Amerika dan anggota NATO serta Uni Eropa, yang menjaga perdamaian di Eropa sejak akhir Perang Dunia II hingga invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Ia menuduh Trump kini bertaruh bahwa dunia akan tetap makmur dan damai seperti dekade sebelumnya, bahkan jika Amerika berubah menjadi kekuatan predator yang siap merebut wilayah (seperti Greenland) dan menekan kebebasan berekspresi terhadap imigran gelap yang “berbakat dan ambisius”.
Mungkin Akan Menyesali Kebijakannya
Namun, jika ternyata Trump keliru dalam kebijakannya—menurut Friedman—maka ia akan menanam kejahatan dan menuai penyesalan, yang dampaknya akan merugikan Amerika dan dunia yang kini merasa cemas.
Friedman bahkan membandingkan Trump dengan Mao Zedong (pendiri China modern) yang berkuasa dari 1966 hingga 1976. Ia menyebutkan bahwa beberapa orang bertanya kepadanya saat berkunjung ke China pekan lalu, apakah Trump akan meluncurkan “revolusi kebudayaan” seperti yang dilakukan Mao—yang menghancurkan ekonomi dan membungkam rakyat demi mempermudah pemerintahan seumur hidup.
Apakah situasinya kini tampak serupa di Amerika? Friedman mengajukan pertanyaan ini dan menjawab sendiri bahwa ia berharap tidak demikian.
(Samirmusa/arrahmah.id)