JABALIYA (Arrahmah.id) – Juru bicara Hamas Abdel Latif al-Qanoua syahid pada Kamis dini hari (27/3/2025) dalam serangan udara ‘Israel’ yang menargetkan tendanya di kota Jabaliya, di Gaza utara.
TV Al-Aqsa mengonfirmasi bahwa Al-Qanoua syahid ketika pasukan ‘Israel’ mengebom tendanya di daerah Jabaliya al-Balad.
Ia dikenal karena perannya sebagai juru bicara gerakan tersebut, sering menyampaikan pidato di media mengenai perang yang sedang berlangsung dan perlawanan Palestina.
Menanggapi pembunuhannya, Hamas mengutuk serangan itu dan menyatakan bahwa pembunuhan para pemimpin dan juru bicara perlawanan tidak akan melemahkan tekadnya.
Kelompok tersebut menyatakan bahwa “darah mereka yang terbunuh akan menjadi inspirasi bagi warga Palestina untuk melanjutkan perlawanan hingga pembebasan dan kembali.”
Gerakan Perlawanan Palestina juga berduka atas kematian Al-Qanoua, menyebut pembunuhannya sebagai “tindakan biadab” dan menuduh ‘Israel’ sengaja menargetkan tokoh politik.
Dalam sebuah pernyataan, gerakan tersebut mengatakan, “Darah para korban adalah amanah yang tidak akan kami abaikan, dan akan tetap menjadi kutukan bagi penjajah.”
Semalam, pasukan ‘Israel’ mengintensifkan serangan mereka terhadap rumah dan tenda yang menampung warga Palestina terlantar di berbagai bagian Gaza, yang mengakibatkan banyak kematian dan cedera.
Eskalasi ini terjadi sebagai bagian dari kampanye militer ‘Israel’ yang berkelanjutan, yang semakin menargetkan warga sipil, jurnalis, dan tokoh politik.
Awal pekan ini, ‘Israel’ juga membunuh pemimpin senior Hamas Ismail Barhoum dan Salah al-Bardawil dalam serangan udara serupa.
Wartawan juga termasuk di antara para korban, dengan koresponden Al Jazeera Mubasher Hussam Shabat terbunuh hanya beberapa jam setelah pembunuhan koresponden Palestine Today Mohammed Mansour, yang terbunuh bersama keluarganya.
Genosida yang Sedang Berlangsung
Kekerasan Israel yang kembali terjadi pada tanggal 18 Maret telah melanggar gencatan senjata yang dimulai pada tanggal 19 Januari. Aksi militer terbaru tersebut telah menewaskan ratusan warga Palestina dan melukai banyak lainnya, terutama warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak.
Meskipun pelanggaran tersebut telah dikutuk oleh banyak negara dan kelompok hak asasi manusia, AS tetap melanjutkan dukungannya terhadap Israel, dengan menegaskan bahwa kampanye militer tersebut dilakukan dengan pengetahuan dan persetujuan sebelumnya dari Washington. (zarahamala/arrahmah.id)