DAMASKUS (Arrahmah.id) — Tradisi Takrizah kembali dihidupkan warga Suriah sebagai tanda perpisahan bulan Sya’ban dan penyambutan bulan Ramadhan.
Pada pertemuan tersebut, orang-orang memainkan permainan tradisional dan menyiapkan hidangan tradisional Ramadhan.
Dilansir Thawra (26/2/2025), Takrizah merupakan tradisi lama warga Damaskus yang disebut Jalan Perpisahan di bulan Sha’ban. Pada perayaan ini, keluarga-keluarga Damaskus melakukan perjalanan Siran ke Rabweh atau Ghouta, dan membawa serta berbagai macam makanan yang dimakan di bulan Ramadhan.
Menurut Mazen Al-Nuwailati, salah seorang anggota Dewan Direksi Asosiasi Sahabat Damaskus, Takrizah memiliki sejumlah ritual yang tidak ditinggalkan oleh para pemiliknya.
Beberapa orang memilih pergi ke alam terbuka di kebun dan kebun buah-buahan. Sebagian yang lainm ada pula yang pergi ke restoran dan tempat umum untuk mengucapkan selamat tinggal kepada bulan Sya’ban dengan disertai makan makanan sederhana yang murah.
Tanggal Takrizah ditetapkan satu atau dua hari sebelum datangnya bulan suci.
Takrizah dimulai di pagi hari dan berakhir pada hari yang sama setelah sore hari ketika mereka kembali ke rumah.
Selama itu, mereka makan berbagai jenis makanan seperti daging panggang, mujaddara, nasi dengan kacang-kacangan, daging goreng, dan Harra Asba’o.
Tradisi Takreezah sering dilakukan oleh orang kaya dan orang miskin sebagai cara untuk melestarikan tradisi ayah dan kakek dan menekankan ikatan kekerabatan antara keluarga dan sosial. Mereka juga memainkan permainan seperti Barzeez dan backgammon, kemudian menyanyikan monolog populer yang terkenal di kalangan masyarakat.
Tidak diketahui secara pasti apa alasan penamaan Takrizah, namun menurut Al-Nuwailati hal ini karena mereka tidak dapat mengunjungi sanak saudara karena keterbatasan waktu dan akan memfokuskan diri beribadah di bulan suci Ramadhan. (hanoum/arrahmah.id)