WASHINGTON (Arrahmah.id) – Sebuah surat kabar Amerika mengungkap bahwa “Israel” memberikan bantuan intelijen kepada Washington dalam serangan terbarunya terhadap kelompok Ansarullah (Houthi). Sementara itu, seorang pejabat PBB memperingatkan konsekuensi dari dimulainya kembali perang besar di Yaman.
Surat kabar The Wall Street Journal mengutip pejabat Amerika yang mengatakan bahwa “Israel” memberikan informasi sensitif mengenai seorang komandan militer senior Houthi yang menjadi target dalam serangan terbaru. Disebutkan pula bahwa Washington telah mengerahkan pembom berat B-2 ke pangkalan di Samudra Hindia sebagai peringatan bagi Iran dan Houthi.
Dalam konteks yang sama, Israel Broadcasting Authority melaporkan bahwa komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) akan mengunjungi “Israel” pada awal pekan depan terkait dengan serangan di Yaman. Laporan tersebut menambahkan bahwa pembahasan dengan komandan CENTCOM di “Israel” mungkin tidak hanya terbatas pada Yaman dan Gaza.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada 15 Maret lalu bahwa ia memerintahkan militernya untuk melancarkan “serangan besar terhadap kelompok Houthi di Yaman”, bahkan mengancam akan “memusnahkan Houthi sepenuhnya”. Hingga tadi malam, telah tercatat sekitar 100 serangan udara Amerika terhadap Yaman, yang mengakibatkan puluhan orang tewas dan terluka, termasuk wanita dan anak-anak.
Peringatan PBB
Dalam perkembangan yang sama, utusan PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, memperingatkan tentang konsekuensi dari dimulainya kembali perang besar di Yaman, dengan mengatakan bahwa hal tersebut “tidak menguntungkan pihak mana pun dan harus dihindari”.
Grundberg menyerukan kepada komunitas internasional untuk terus mengambil langkah-langkah bersama guna memastikan solusi damai dan berkelanjutan di Yaman. Ia menekankan bahwa cara untuk meredakan ketegangan adalah melalui diplomasi berbasis dialog dan komitmen bersama.
Sebagai bentuk solidaritas dengan Gaza dalam menghadapi genosida “Israel”, kelompok Houthi sejak November 2023 mulai menargetkan kapal-kapal dagang yang dimiliki atau terkait dengan “Israel” di Laut Merah dan wilayah lain yang dapat mereka jangkau dengan rudal dan drone. Mereka juga melancarkan serangan terhadap target di dalam “Israel” serta kapal perang Amerika di perairan tersebut.
Kelompok ini sempat menghentikan serangan mereka setelah gencatan senjata di Gaza antara gerakan perlawanan Islam (Hamas) dan “Israel” pada 19 Januari lalu. Namun, mereka kembali melanjutkan serangan setelah “Israel” kembali melakukan genosida di Gaza pada 18 Maret.
(Samirmusa/arrahmah.id)