TEL AVIV (Arrahmah.id) – Hasil jajak pendapat mengungkap meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap kepemimpinan Netanyahu dan perubahan dramatis dalam lanskap politik ‘Israel’.
Jajak pendapat yang diterbitkan oleh Maariv pada Jumat (24/1/2025) tersebut memproyeksikan bahwa perwakilan Likud akan turun dua kursi, sehingga hanya memiliki 21 kursi. Sebaliknya, Otzma Yehudit, yang dipimpin oleh mantan Menteri Kepolisian Itamar Ben-Gvir, akan mendapatkan momentum, sehingga kursinya bertambah menjadi sembilan.
Partai Persatuan Nasional pimpinan Benny Gantz diperkirakan akan mengalami peningkatan yang moderat, mencapai 18 kursi, angka yang juga diproyeksikan untuk Yisrael Beiteinu pimpinan Avigdor Lieberman.
Yesh Atid, di bawah mantan Perdana Menteri Yair Lapid, diperkirakan akan mengamankan 13 kursi, sementara partai Zionisme Religius, yang dipimpin oleh Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, hampir tidak akan melewati ambang batas pemilihan dengan empat kursi.
Partai Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar diperkirakan gagal kembali ke Knesset karena hanya memperoleh 2% suara.
Jajak pendapat tersebut menggarisbawahi perubahan lanskap politik, dengan koalisi Netanyahu diproyeksikan mengamankan 51 kursi, dibandingkan dengan 59 kursi untuk oposisi.
Partai-partai Arab diperkirakan secara kolektif memegang 10 kursi, yang membuat oposisi bergantung pada dukungan dari faksi-faksi Arab atau pembelotan dari koalisi Netanyahu untuk membentuk pemerintahan.
Dalam skenario hipotetis di mana mantan Perdana Menteri ‘Israel’ Naftali Bennett mendirikan partai baru, dinamika politik berubah secara dramatis.
Partai Bennett akan menguasai 27 kursi, sehingga mengurangi jumlah kursi Likud menjadi 19 dan Yesh Atid menjadi 9, sementara partai Smotrich dan Sa’ar akan berada di bawah ambang batas elektoral. Hal ini akan meningkatkan koalisi Bennett menjadi 67 kursi, sementara blok Netanyahu akan menyusut menjadi 43 kursi.
Jajak pendapat tersebut juga menyoroti meningkatnya ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Netanyahu, dengan 62% warga Israel menyerukan pengunduran dirinya mengingat ia dianggap bertanggung jawab atas kegagalan pada 7 Oktober. Sentimen ini juga dirasakan oleh 18% pemilih Likud, sementara 29% responden menentang pengunduran dirinya, dan 9% masih belum menentukan pilihan.
Temuan ini mencerminkan iklim politik yang bergejolak di ‘Israel’, dengan implikasi signifikan terhadap kepemimpinan Netanyahu dan arah politik masa depan negara tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)