SURIAH (Arrahmah.com) – Bilal Abdul Kareem, seorang jurnalis senior, asal Amerika, yang memproduksi sebuah mockumentary mengenai alasan para Mujahidin Suriah bersatu melawan IS (ISIS), kini menanggapi pembunuhan Abdul Rahman Kassig oleh IS (ISIS) sebagai bentuk pengabaian ijma para ulama pada Ahad (16/11/2014).
Berikut paparan Akhi Bilal, yang ia paparkan pada situs pribadinya dengan tajuk “Kematian Abdul Rahman Kassig: sebuah titik balik?”
A’udzu bikalimatillahi tammaatin min syarri maa kholaq. Bismillah.
Abdul Rahman Kassig, semoga Allah merahmatinya, dibunuh oleh pengikut Abu Bakr Al-Baghdadi dan disebarkan di internet agar dunia melihat. Kassig mendirikan rumah sakit lapangan dan mengoperasikan pada mereka yang membutuhkannya – baik pejuang maupun sipil. Ia telah melakukan banyak hal untuk Islam dan masyarakat umum melebihi orang-orang lainnya.
Hari ini kesedihan yang saya rasakan benar-benar bukan untuknya. Ia meraih sesuatu yang begitu banyak umat Islam impikan, untuk menjadi syahid Insyaa Allah. Saya meminta kepada Allah subhanahu wata’ala untuk menerimanya seperti itu dan membalasnya, Aammiin. Saya merasa sedih kepada keluarganya yang harus melihat penderitaan mereka masuk ke fase baru hari ini dengan mendengar kematian anak mereka, dan khususnya dengan cara yang mengerikan seperti ini.
Apa yang akan mereka pikirkan tentang Islam dan para pemeluknya? “Anak saya pergi untuk membantu orang-orang ini dan lihatlah apa yang dia dapat”, mereka pasti berpikir seperti itu. Bagi mereka, saya akan mengatakan bahwa anak mereka tidak mati sia-sia, dan ada lebih dari satu miliar orang yang berdoa untuk anak Anda, yang adalah saudara kami.
Jika ada pendukung ISIS di luar sana yang mungkin bingung tentang masalah ini karena Anda merasa bahwa Anda percaya ISIS dan mereka lebih “tahu” apa yang terjadi, saya akan katakan, dengarkanlah kata-kata dari Nabi Muhammad (saw), yang bersabda:
“Allah tidak akan pernah membiarkan umatku bersatu pada kesesatan dan keyakinan yang salah.” [At Tirmidzi]
Pernyataan di atas ini tidak mengacu pada Muslim awam. Ini mengacu pada Muslim yang berpengetahuan (alim ulama). Saya meminta setiap pendukung ISIS untuk mengajukan kepada saya nama tiga orang ulama yang terhormat yang mendukung kelompok mereka. Setahu saya tidak ada.
Saya tidak hanya mengacu Masyayikh yang muncul di TV, saya mengacu kepada para syaikh yang memiliki ilmu yang tinggi. Bahkan dalam gerakan Taliban ada beberapa ulama yang jelas mendukung mereka meskipun ia tidak populer ketika melakukannya pada waktu itu.
Kita tidak bisa mengabaikan setiap ulama dan hanya berpegang teguh pada keinginan kita.
Masalah dengan ISIS bahkan bukanlah masalah perbedaan pendapat di antara para ulama. Apakah Anda merasa nyaman hadir di depan Allah sementara Anda mengetahui hadits ini dan menjelaskan kepada-Nya subhanahu wata’ala mengapa Anda memilih untuk mengabaikan ijma ulama tentang masalah ini (pemenggalan)? Atau apakah Anda akan mengatakan: “Semua ulama yang benar saat ini berada di dalam penjara dan tidak dapat berbicara?”
Kalau begitu, tolong katakan siapa “ulama itu” yang sependapat dengan Anda. Siapa namanya? Tidak ada. Hanya omong kosong. Berikut beberapa pembicaraan yang nyata:
“Allah tidak akan pernah membiarkan umatku bersatu pada kesesatan dan keyakinan yang salah.” [At Tirmidzi]
Apakah Anda berpikir bahwa Allah (SWT) tidak mengetahui bahwa kita akan menghadapi masalah seperti ini, ketika Nabi-Nya shalallahu ‘alayhi wasallam mengucapkan hadist di atas? Tentu saja Dia tahu! Dan Dia memberikan kita jalan untuk keluar dari kekacauan ini.
Saya akui bahwa para alim ulama kita memiliki banyak masalah dan isu-isu, namun, ijma (konsensus) adalah sesuatu yang tidak dapat diabaikan.
Apakah ada di antara mereka yang mendukung ISIS mengetahui, siapa “ulama” yang diklaim oleh ISIS menjadi tempat mereka berkonsultasi? Apakah ada yang tahu siapa mereka? Ini adalah kurangnya transparansi yang telah menyakiti umat Islam begitu lama.
Siapakah “Ahlul hal wal aqd” yang memilih Al-Baghdadi sebagai Khalifah?
Siapakah “para ulama” yang hanya diketahui dengan nama kuniah mereka (Abu fulan dan fulan)?
Bahkan Al-Baghdadi adalah sosok yang tidak diketahui (majhul) yang belum dilihat secara langsung oleh seluruh anak buahnya sendiri, apalagi seluruh dunia kecuali mereka yang berada di sekelilingnya, dan bahkan mereka juga tidak kita ketahui!
Cukuplah untuk saat ini! Ketika saya memproduksi video dengan banyak komandan senior ISIS di Suriah, tidak satupun dari mereka yang mengetahui apa yang Al-Baghdadi lakukan atau mengapa mereka membunuh dan menyiksa pemberontak lainnya. Dan masih banyak orang yang seperti mereka yang berada di dalam tubuh ISIS.
Saya berdoa ini adalah titik balik. ISIS mendapatkan kekuatan tidak berarti kemenangan bagi Ummat. Mereka tidak akan ragu-ragu untuk membunuh seorang Muslim, seperti Abdul Rahman Kassig, yang [telah] berubah menjadi muallaf.
Maka dengan paparan Akhi Bilal, semoga kita pahami sebuah titik balik bahwa perilaku pemenggalan terhadap seorang Muslim itu tak ubahnya tindakan Khawarij. Jika Anda tidak menyetujuinya, silakan Anda buka kembali sirah mengenai apa dan siapa itu kaum Khawarij.
Khawarij pada zaman sahabat juga ikhlas berjihad, [nampak] sholih, zuhud dan ahli ibadah. Namun sekali lagi, memperjuangkan Islam juga perlu mengi’tiba kepada Sunnah, selain keikhlasan.
Sholih dan ikhasnya sebagian Mujahid ISIS yang bahkan tidak mengetahui siapa ulama pendukung mereka, apa nilainya jika dibandingkan kerusakan yang institusi ISIS timbulkan terhadap jihad di Suriah dan jihad global?
Hanya musuh Islam yang mendapatkan keuntungan dari perilaku ISIS itu. Saatnya para pejuang ISIS yang merasa ikhlas dalam perjuangannya memberanikan diri mengoreksi kesalahan dan kekejaman ISIS terhadap Ummat Islam serta Mujahidin Suriah dan Irak. Semoga inilah titik balik yang Ummat Islam harapkan. Ikhwah fiillah masih ada jalan kembali, isnyaa Allah. Wallahu a’lam bish shawab. (adibahasan/arrahmah.com)