SULAWESI TENGAH (Arrahmah.id) – Pernyataan kontroversial yang dilontarkan oleh Gus Fuad Plered pada 24 Maret 2025 mengenai pendiri Alkhairaat, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri atau yang dikenal sebagai Guru Tua, memicu gelombang kemarahan dari berbagai kalangan. Tokoh masyarakat, umat Islam, dan organisasi keagamaan mengecam keras pernyataan tersebut dan menuntut pertanggungjawaban dari Gus Fuad.
Gus Fuad Plered adalah seorang tokoh agama yang aktif dalam kegiatan dakwah dan pendidikan serta merupakan bagian dari Nahdlatul Ulama (NU). Beliau dikenal sebagai sosok yang sering terlibat dalam perdebatan publik mengenai isu-isu keagamaan di Indonesia.
Sementara itu, Guru Tua adalah ulama kharismatik yang sangat dihormati di Sulawesi Tengah. Lahir pada tahun 1892 di Hadhramaut, Yaman, dan wafat pada 22 Desember 1969 di Palu, beliau adalah pendiri Alkhairaat yang berkontribusi besar dalam pendidikan dan dakwah Islam di Indonesia Timur sejak tahun 1930. Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri dikenal sebagai penggerak ilmu pengetahuan Islam dan pembina banyak ulama serta cendekiawan.
Pernyataan Gus Fuad pertama kali mencuat melalui sebuah video yang beredar di media sosial, di mana ia diduga menggunakan istilah “monyet” dalam konteks yang dianggap menghina Guru Tua. Hal ini langsung mendapat respons dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, yang menilai bahwa pernyataan tersebut berpotensi merusak kerukunan umat beragama, terutama di bulan suci Ramadhan.
“Kami sangat menyayangkan pernyataan tersebut karena dapat menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat. Apalagi, Guru Tua adalah sosok yang sangat dihormati oleh umat Islam, khususnya di Sulawesi Tengah,” ujar perwakilan FKUB dalam pernyataan resminya.
Komisariat Daerah (Komda) Alkhairaat Kabupaten Sigi juga mendesak aparat penegak hukum untuk segera bertindak. “Kami meminta kepolisian untuk menangkap dan memproses Gus Fuad sesuai hukum yang berlaku. Pernyataannya telah melukai perasaan keluarga besar Alkhairaat dan umat Islam secara umum,” kata Ketua Komda Alkhairaat Sigi.
Protes terhadap Gus Fuad semakin membesar setelah pemimpin Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab, turut bersuara. Dalam sebuah rekaman video yang beredar, Habib Rizieq mengecam keras pernyataan tersebut dan menuntut tindakan tegas dari aparat penegak hukum. Ia menegaskan bahwa penghinaan terhadap ulama seperti Guru Tua tidak dapat ditoleransi dan jika negara tidak mengambil langkah yang diperlukan, maka pihaknya siap untuk bertindak demi membela kehormatan ulama.
“Ini bukan sekadar persoalan individu, ini tentang marwah para ulama yang harus kita jaga!” tegas Habib Rizieq dalam pernyataannya.
Menanggapi gelombang protes, Gus Fuad Plered akhirnya mengeluarkan permintaan maaf pada 28 Maret 2025 melalui akun YouTube pribadinya. Dalam klarifikasinya, ia menjelaskan bahwa istilah “monyet” yang digunakan dalam pernyataannya tidak ditujukan kepada Guru Tua, melainkan kepada kelompok yang berusaha menyiasati aturan, dengan merujuk pada kisah dalam Al-Qur’an tentang kaum Yahudi yang melanggar larangan Tuhan.
Namun, permintaan maaf tersebut belum sepenuhnya meredakan amarah publik. Sejumlah organisasi Islam dan tokoh masyarakat tetap meminta tindakan tegas dari aparat hukum untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
“Permintaan maaf saja tidak cukup. Ada dampak besar yang telah ditimbulkan oleh pernyataan tersebut. Ini bukan hanya tentang individu, tetapi tentang menjaga kehormatan ulama dan tokoh agama,” ujar salah satu tokoh masyarakat di Palu.
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi para tokoh publik dan pemuka agama untuk lebih berhati-hati dalam berbicara. Masyarakat berharap kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak agar tetap menjaga adab dan etika dalam menyampaikan pendapat, terutama dalam hal yang menyangkut agama dan tokoh-tokoh
(samirmusa/arrahmah.id)