TEL AVIV (Arrahmah.id) – Media “Israel” melaporkan bahwa saat ini tidak ada usulan baru maupun negosiasi terkait Gaza. Sebaliknya, tentara “Israel” tengah bersiap untuk tahap berikutnya dalam operasi militernya di wilayah tersebut.
Pada awal Maret, tahap pertama dari kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan antara faksi perlawanan Palestina dan “Israel” telah berakhir. Kesepakatan yang mulai berlaku sejak 19 Januari 2025 itu dimediasi oleh Mesir dan Qatar dengan dukungan Amerika Serikat.
Sementara Hamas telah mematuhi ketentuan tahap pertama, Perdana Menteri “Israel” Benjamin Netanyahu justru menghindari pelaksanaan tahap kedua. Menurut media “Israel”, Netanyahu terpengaruh oleh tekanan dari kelompok ekstremis dalam koalisi pemerintahannya.
Dalam beberapa hari terakhir, Mesir dikabarkan mengajukan proposal untuk membebaskan lima tahanan “Israel” yang masih hidup dari Gaza dengan imbalan gencatan senjata selama dua bulan, pengiriman bantuan kemanusiaan, serta pembebasan ratusan tahanan Palestina.
Tawaran Ditolak
Surat kabar Maariv melaporkan bahwa “Israel” menolak klaim adanya tawaran tersebut. Seorang sumber resmi “Israel” yang tidak disebutkan namanya mengatakan, “Tidak ada kemajuan dalam negosiasi. Faktanya, tidak ada negosiasi sama sekali, sehingga ‘Israel’ bersiap untuk melanjutkan ke tahap berikutnya dari operasi militernya di Gaza.”
Sejak 18 Maret, ketika serangan terhadap Gaza kembali dilanjutkan, sedikitnya 730 warga Palestina tewas dan 1.367 lainnya luka-luka. Sebagian besar korban adalah anak-anak dan perempuan, menurut laporan Kementerian Kesehatan Gaza.
Sumber yang sama menyebutkan bahwa tahap berikutnya dari operasi militer bertujuan untuk meningkatkan tekanan terhadap Hamas agar para pemimpin seniornya mau lebih fleksibel dan menyetujui rencana yang diusulkan oleh utusan Amerika, Stephen Whitcoff.
Seorang pejabat “Israel” lainnya mengatakan bahwa pemerintahannya ingin membebaskan sebanyak mungkin tahanan, terutama mereka yang masih hidup. “Tekanan militer akan semakin ditingkatkan untuk memaksa Hamas berunding, tetapi ‘Israel’ tidak akan menerima rencana yang lebih rendah dari usulan Whitcoff,” ujarnya.
Media “Israel” melaporkan bahwa Whitcoff mengajukan proposal untuk membebaskan 10 tahanan “Israel” dengan imbalan 50 hari gencatan senjata, pembebasan tahanan Palestina, serta masuknya bantuan kemanusiaan. Rencana itu juga mencakup dimulainya negosiasi tahap kedua.
Hamas Tidak Menolak
Sebelumnya, Hamas menegaskan bahwa mereka tidak menolak proposal Whitcoff. Sebaliknya, kelompok perlawanan itu menuduh Netanyahu sengaja melanjutkan serangan ke Gaza demi menggagalkan kesepakatan.
Sehari setelahnya, Hamas menyatakan persetujuan atas proposal yang diajukan mediator. Kesepakatan tersebut mencakup pembebasan seorang tentara “Israel”-Amerika serta penyerahan empat jenazah warga negara berkewarganegaraan ganda, sebagai langkah awal menuju negosiasi tahap kedua.
Dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat, “Israel” telah melakukan serangan ke Gaza sejak 7 Oktober 2023. Hingga kini, lebih dari 162.000 warga Palestina tewas atau terluka, sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Lebih dari 14.000 lainnya masih dinyatakan hilang.
Blokade “Israel” terhadap Gaza yang telah berlangsung selama 18 tahun membuat sekitar 1,5 juta dari 2,4 juta penduduknya kehilangan tempat tinggal. Situasi semakin memburuk setelah wilayah tersebut memasuki tahap awal kelaparan akibat tertutupnya akses bantuan kemanusiaan.
(Samirmusa/arrahmah.id)