GAZA (Arrahmah.id) — Pejabat senior divisi politik kelompok perlawanan Palestina Hamas, Basem Naim, mengindikasikan kelompoknya dapat kembali terlibat pertempuran untuk mempertahankan diri dan rakyat di Gaza. Hal ini diungkapkannya setelah pasukan Israel melakukan serangan udara besar-besaran di wilayah tersebut.
Naim mengecam serangan Israel dalam wawancara daring dengan NHK pada Selasa (18/03/2025). Pejabat kesehatan di Gaza mengatakan 404 orang tewas dalam serangan menjelang fajar itu.
Naim mengatakan Israel melancarkan serangan brutal pada tengah malam, meskipun pembicaraan dengan mediator yang bertujuan mempertahankan perjanjian gencatan senjata sedang berlangsung. Gencatan senjata berlaku sejak Januari.
Naim juga mengecam pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Ia mengatakan pemerintahan Trump telah diberi tahu oleh Israel sebelumnya dan menyetujui serangan udara tersebut.
Pejabat senior itu menegaskan bahwa AS bukan lagi mediator, melainkan pihak dalam konflik tersebut. Ia menambahkan AS juga harus bertanggung jawab atas serangan Israel.
Naim mendesak negara-negara penengah dan masyarakat internasional untuk menghentikan serangan Israel. Ia mengatakan bahwa keputusan sekarang ada di tangan mereka. Ia menggambarkan gagasan bahwa para sandera akan dibebaskan jika Israel dan AS menekan Hamas sebagai “ilusi”.
Naim mengatakan Hamas tidak ingin pertempuran kembali terjadi. Namun, jika diperlukan, kelompok itu akan menggunakan segala cara untuk melindungi dirinya dan warga di Gaza.
Hamas ingin beralih ke tahap kedua perjanjian gencatan senjata, yang menyerukan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza dan gencatan senjata permanen. (hanoum/arrahmah.id)