HOMS (Arrahmah.id) – Pesawat tempur “Israel” melancarkan serangan udara terhadap posisi militer di Provinsi Homs, Suriah, pada Selasa (18/3). Serangan ini menargetkan benteng pertahanan tentara Suriah di desa-desa Shinshar dan Shamsin, selatan Kota Homs.
Sumber keamanan yang dikutip Reuters menyebut bahwa hingga saat ini militer “Israel” belum memberikan komentar terkait serangan tersebut. Namun, sebelumnya “Israel” kerap mengklaim bahwa serangannya menyasar fasilitas militer dan lokasi penyimpanan senjata.
Menurut laporan yang sama, “Israel” telah melakukan serangan udara intensif di Suriah sejak kejatuhan rezim Bashar al-Assad. Selain itu, pasukan “Israel” juga dilaporkan berpindah ke zona demiliterisasi yang berada di bawah pengawasan PBB dalam wilayah Suriah.
Sementara itu, serangan lain di sekitar Provinsi Daraa pada Senin (17/3) menyebabkan tiga warga sipil tewas dan melukai 19 orang lainnya.
Saudi Kutuk Serangan “Israel”
Arab Saudi secara resmi mengecam serangan ini dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Saudi, Riyadh menegaskan bahwa serangan “Israel” merupakan ancaman serius bagi keamanan dan stabilitas kawasan.
“Pelanggaran berulang ini bertentangan dengan perjanjian dan hukum internasional yang berlaku,” demikian pernyataan resmi Saudi.
Saudi juga mendesak komunitas internasional untuk bertindak tegas menghadapi agresi “Israel” serta meminta Dewan Keamanan PBB mengambil langkah konkret guna menghentikan serangan yang terus berlangsung.
Selain itu, Riyadh menyerukan mekanisme akuntabilitas internasional diterapkan terhadap pelanggaran ini, sekaligus menegaskan solidaritasnya dengan rakyat dan pemerintah Suriah.
Serangan “Israel” di Suriah Semakin Intens
Menurut laporan Anadolu Agency, sejak menduduki sebagian besar Dataran Tinggi Golan pada 1967, “Israel” terus memanfaatkan situasi di Suriah untuk memperluas wilayahnya, termasuk mengambil alih zona demiliterisasi.
Serangan udara yang dilakukan “Israel” telah menghancurkan ratusan pangkalan militer, persenjataan, serta infrastruktur penting milik tentara Suriah.
Hingga kini, ketegangan di kawasan masih tinggi, dengan meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
(Samirmusa/arrahmah.id)