WASHINGTON (Arrahmah.id)– Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu mengumumkan penerapan tarif bea masuk baru secara luas, yang ia sebut sebagai “Deklarasi Pembebasan Ekonomi Amerika Serikat”. Kebijakan ini mencakup:
- 25% tarif bea masuk untuk mobil impor,
- 20% tarif untuk semua impor lainnya,
- Tarif lebih tinggi untuk mitra dagang tertentu:
- 34% pada impor dari Tiongkok,
- 24% pada impor dari Jepang,
- 20% pada impor dari Uni Eropa.
Pemerintahan Trump berharap kebijakan ini dapat mengurangi defisit perdagangan dan mendorong industri dalam negeri. Namun, Kamar Dagang AS memperingatkan bahwa langkah ini dapat menjadi “pajak luas terhadap konsumen”, menyebabkan lonjakan harga, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Kecemasan dan Ancaman Balasan
Keputusan ini memicu reaksi cepat dari berbagai negara dan mitra dagang utama:
- Kanada memperingatkan potensi kehilangan hingga satu juta pekerjaan dan lonjakan harga bahan makanan akibat tarif 25% untuk produknya dan 10% untuk ekspor energi.
- Uni Eropa mengecam kebijakan tersebut sebagai “tidak proporsional” dan menyatakan siap menerapkan langkah balasan bertahap.
- Irlandia memperkirakan kehilangan hingga 80 ribu pekerjaan serta ancaman terhadap perusahaan multinasional yang beroperasi di negaranya. Pemerintah Irlandia bahkan mungkin harus membatalkan paket dukungan ekonomi senilai €2,2 miliar.
- Australia menilai kebijakan ini lebih merugikan AS daripada menguntungkannya dan menyatakan akan meninjau kembali hubungan dagang dengan Washington jika proteksionisme terus berlanjut.
Dampak di Pasar Keuangan
Pengumuman Trump langsung mengguncang pasar keuangan:
- Indeks S&P 500 turun 1,7%,
- Indeks Nasdaq merosot 2,4%.
Para analis melihat ini sebagai indikasi meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi inflasi dan resesi simultan di AS.
Ekonom memperingatkan bahwa kebijakan ini dapat memicu perang dagang global jika negara-negara terdampak membalas dengan tarif terhadap ekspor AS. Hal ini berisiko mengganggu rantai pasokan global serta meningkatkan harga barang-barang utama.
Sementara Trump mengklaim kebijakan ini sebagai pemulihan kedaulatan ekonomi, berbagai pihak memperingatkan potensi kekacauan dalam perdagangan dunia. Dalam waktu dekat, AS kemungkinan akan menghadapi perlawanan diplomatik dan ekonomi dari para mitra strategisnya.
(Samirmusa/arrahmah.id)