ISTANBUL (Arrahmah.id) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan menegaskan bahwa negaranya mempercepat upaya diplomasi untuk memulihkan gencatan senjata di Jalur Gaza. Hal ini disampaikan dalam pidatonya pada perayaan Hari Nowruz di Istanbul, Jumat (21/3).
Erdoğan menyoroti kembali serangan “Israel” di Gaza yang disebutnya sebagai perang genosida.
“Kami mempercepat komunikasi diplomatik untuk memulihkan gencatan senjata di Gaza, menghentikan genosida, dan mengakhiri ketidakadilan,” ujar Erdoğan.
Dia juga menegaskan bahwa Turki tidak akan tinggal diam melihat situasi yang semakin memburuk.
“Kami tidak akan membiarkan geng genosida yang semakin nekat dari hari ke hari mengubah wilayah kami menjadi lautan darah,” tegasnya.
Presiden Turki itu juga mengecam pihak-pihak yang berusaha mengubah peta politik kawasan.
“Mereka yang menggambar peta baru untuk diri mereka sendiri tidak akan dapat mencapai tujuan kotor mereka, insya Allah,” katanya.
Turki Tambah Bantuan untuk Gaza
Dalam kesempatan itu, Erdoğan mengumumkan peningkatan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina di Gaza sebelum Idulfitri.
Dia menyoroti tingginya jumlah korban dalam serangan terbaru “Israel” di Gaza, yang mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.
“Anak-anak, perempuan, warga sipil, dan orang-orang tak bersalah yang menjadi syahid dalam serangan terbaru ‘Israel’ telah menghancurkan hati semua orang,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa Turki akan terus berdiri di sisi rakyat Palestina di masa-masa sulit ini.
Kecaman terhadap “Israel”
Dalam pidatonya, Erdoğan menyebut “Israel” sebagai negara teroris dan berjanji akan terus mengupayakan tindakan hukum internasional terhadap kebijakan agresifnya di Gaza.
“Kami telah dan akan terus melakukan apa pun yang diperlukan untuk memastikan bahwa negara teroris yang menghisap darah anak-anak ini tidak hanya dikutuk dalam hati nurani umat manusia, tetapi juga di hadapan pengadilan internasional,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya persatuan negara-negara di kawasan dalam menghadapi situasi ini.
“Sebagai bangsa-bangsa yang telah hidup berdampingan dalam persaudaraan di wilayah ini selama seribu tahun, kita akan membangun masa depan kita yang penuh dengan kedamaian, ketenangan, dan stabilitas bersama,” kata Erdoğan.
Situasi Terkini di Gaza
Sejak dimulainya kembali serangan “Israel” di Gaza pada Selasa dini hari hingga Kamis malam, sebanyak 591 warga Palestina tewas dan 1.042 lainnya terluka, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. Data ini berdasarkan laporan resmi dari “Pemerintah Gaza.”
Sebelumnya, pada 1 Maret 2025, tahap pertama dari perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan antara Hamas dan “Israel” telah berakhir. Namun, Perdana Menteri “Israel” Benjamin Netanyahu mengingkari tahap kedua dari kesepakatan tersebut.
Netanyahu, yang saat ini menjadi buronan pengadilan internasional, disebut ingin membebaskan lebih banyak tahanan “Israel” tanpa memenuhi syarat yang telah disepakati, yakni penghentian perang genosida dan penarikan penuh dari Gaza.
Dengan dukungan Amerika Serikat, “Israel” telah melakukan serangan terhadap Gaza sejak 7 Oktober 2023 yang mengakibatkan lebih dari 162.000 warga Palestina terbunuh dan terluka, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Lebih dari 14.000 orang masih dinyatakan hilang.
(Samirmusa/arrahmah.id)