GAZA (Arrahmah.id) – Sebuah kelompok HAM berbasis di Jenewa menyatakan bahwa komunitas internasional “harus meminta pertanggungjawaban” pejabat ‘Israel’ dan individu lainnya atas “pembunuhan sengaja” terhadap 15 paramedis dan tenaga tanggap pertama dari PRCS dan Pertahanan Sipil. Seorang karyawan UNRWA juga termasuk di antara korban.
“Pembunuhan ini merupakan bagian dari serangan luas dan sistematis Israel terhadap pekerja kemanusiaan, medis, dan PBB, yang semuanya dilindungi oleh hukum internasional,” kata Euro-Med Human Rights Monitor dalam laporan terbarunya pada Selasa (1/4/2025).
Bukti di Lapangan
Menurut bukti lapangan, pasukan ‘Israel’ membunuh delapan paramedis Palang Merah Palestina, lima personel Pertahanan Sipil, dan satu karyawan UNRWA; “semua sedang bertugas saat menjadi sasaran.”
‘Eksekusi Massal’
PRCS mengumumkan penemuan mayat tersebut setelah serangan ‘Israel’ di Rafah. Beberapa hari sebelumnya, Pertahanan Sipil Palestina melaporkan pemulihan mayat salah satu anggotanya yang dibunuh pasukan ‘Israel’, menaikkan jumlah korban menjadi 15.
“Kejahatan ini disebut sebagai ‘eksekusi massal terbesar terhadap pekerja kemanusiaan dalam sejarah perang modern’,” kata Euro-Med Monitor.
Pembunuhan itu disusul dengan “penghancuran total kendaraan para pekerja, dan sebagian besar mayat mereka kemudian dikubur dalam lubang dalam yang ditimbun pasir.”
“Adegan mengerikan ini menjadi bukti lebih lanjut genosida ‘Israel’ di Gaza, serta pelanggaran berat hukum humaniter internasional,” tegas organisasi tersebut.
‘Pengepungan Ketat’
Menurut laporan, sebuah ambulans PRCS berangkat dari lingkungan Hashash, Rafah, pada Ahad pagi, 23 Maret, untuk mengevakuasi korban serangan ‘Israel’. Namun, para medis di dalamnya justru terluka akibat tembakan intensif pasukan pendudukan ‘Israel’. Saat situasi memburuk, tiga ambulans lagi dikirim, tetapi “daerah itu tiba-tiba dikepung ketat oleh pasukan pendudukan,” yang memutus semua komunikasi dengan petugas medis.
Hari yang sama, tim penyelamat Pertahanan Sipil di lingkungan Tal al-Sultan, Rafah, menerima panggilan darurat ke al-Hashash. Panggilan itu menyebut pasukan ‘Israel’ tiba-tiba menyerbu, menewaskan dan melukai puluhan orang, serta menjebak petugas medis. Meski tim enam personel Pertahanan Sipil merespons, “komunikasi dengan mereka terputus tak lama setelah berangkat.”
Salah satu anggota tim “dipukuli brutal” oleh pasukan ‘Israel’ dan dilepaskan malam itu. “Sisanya—karyawan UNRWA, lima personel Pertahanan Sipil, dan delapan paramedis Palang Merah—dibunuh,” kata laporan itu.
Kendaraan ‘Hangus’
Kru ambulans dan Pertahanan Sipil akhirnya mencapai lokasi pada Jumat, 28 Maret, setelah koordinasi internasional. Mereka menemukan mayat pemimpin misi, petugas Pertahanan Sipil Anwar Abdul Hamid al-Attar, “terkoyak,” serta semua kendaraan Palang Merah dan truk pemadam “hangus menjadi logam.”
“Begitu kejadian terjadi, kami masuk ke lokasi di barat Rafah bersama tim OCHA (Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan),” kata Sufyan Ahmed, anggota tim Pertahanan Sipil yang terlibat dalam pemulihan mayat, dalam pernyataan kepada Euro-Med Monitor.
Pasukan ‘Israel’ memberi tahu OCHA bahwa mayat korban ditemukan di dekat truk pemadam dan tiang listrik. “Kami menggali di titik yang ditentukan, menemukan satu mayat, yang ternyata Anwar al-Attar,” jelas Ahmed.
Tim terus mencari mayat lain di lubang yang sama, tetapi tidak menemukannya karena waktu terbatas yang diberikan pasukan Israel.
Lokasi Mayat
Keesokan harinya, tim kembali tetapi ditolak masuk. Setelah beberapa hari, mereka akhirnya diizinkan pada Ahad (30/3). Sebuah drone menunjukkan lokasi penguburan mayat, yang ternyata jauh dari titik sebelumnya.
“Kami segera menggali dan menemukan mayat satu per satu di lubang yang sama,” kata Ahmed. Mayat karyawan UNRWA masih hilang, tetapi dikabarkan berada dekat area barak di barat Rafah.
“Mayat-mayat itu memiliki ciri khas, tapi sudah mulai membusuk. Saat diperiksa, jelas mereka ditembak berkali-kali,” ujarnya.
Diikat dan Ditembak
Ahmed mencatat bahwa luka-luka terutama di dada. Beberapa korban mungkin masih hidup saat dikubur, dengan kaki terikat. Salah satu mayat, Ibrahim al-Maghari, “penuh memar dan tanda penyiksaan, kakinya terikat, wajah hancur akibat tembakan di kepala.” Fouad al-Jamal “ditembak dari jarak sangat dekat, tengkoraknya hancur.”
“Setiap paramedis Palang Merah ditembak di sisi kiri dan kanan kepala,” tegasnya.
Setelah diizinkan, mayat-mayat itu dibawa ke ambulans dengan “kesedihan dan penderitaan luar biasa.”
Bukti Temuan Lain
Ahmed menyebut tim awalnya melihat “tas, selimut, pakaian, dan barang milik warga yang mengungsi,” tetapi barang-barang itu hilang saat mereka kembali, menunjukkan lokasi kejadian telah diubah.
Tim pemulihan didampingi delegasi Palang Merah Internasional, dokter forensik, ahli dokumentasi, serta perwakilan UNRWA dan OCHA.
‘Disiksa dan Dibunuh’
Kesaksian lain dari kru Pertahanan Sipil menyebut korban “disiksa dengan kejam sebelum dibunuh.” Satu mayat “masih memakai borgol, lainnya setengah telanjang, ada yang ditembak lebih dari 20 kali di dada.”
Mayat-mayat itu ditemukan di kuburan massal sedalam 2-3 meter, “menunjukkan pasukan ‘Israel’ memaksa korban keluar dari mobil, membunuh mereka, lalu menguburnya untuk menghilangkan bukti.”
Rentetan Serangan Sistematis
“Kejahatan ini adalah bagian dari serangan sengaja terhadap pekerja kemanusiaan dan medis sejak 7 Oktober 2023,” kata Euro-Med Monitor.
Sejak itu, ‘Israel’ telah membunuh “lebih dari 1.400 tenaga medis, 27 paramedis Palang Merah, dan 111 personel Pertahanan Sipil” sebagai bagian dari kampanye sistematis menghancurkan infrastruktur kesehatan Gaza.
Pelanggaran Hukum Internasional
Konvensi Jenewa, yang melindungi pekerja medis dan kemanusiaan, “dilanggar secara serius oleh kejahatan keji ini,” tegas Euro-Med Monitor.
Mereka mendesak komunitas internasional untuk mengambil tindakan hukum dan meminta pertanggungjawaban ‘Israel’ serta sekutunya, karena “Israel jelas berusaha memusnahkan populasi Palestina di Gaza, baik dengan pembunuhan langsung maupun penghancuran institusi pendukung kehidupan mereka—kejahatan terparah yang mungkin terjadi.” (zarahamala/arrahmah.id)