WASHINGTON (Arrahmah.id) — Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menuduh Iran mendukung organisasi teroris, termasuk Taliban dan al Qaeda.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tammy Bruce menyampaikan pernyataan tersebut dalam jumpa pers pada hari Senin (31/3/2025), di mana ia menyebut Taliban sebagai kelompok teroris dan mengkritik dukungan Iran terhadapnya dan aktor bersenjata lainnya, termasuk Hizbullah, Hamas, Houthi, dan al Qaeda.
“Korps Garda Revolusi Iran sendiri ditetapkan sebagai organisasi teroris asing, dan banyak pemimpin rezim Iran juga telah ditetapkan sebagai teroris,” kata Bruce, dikutip dari Amu TV (2/4).
Ia menambahkan, “Rezim Iran selalu memusuhi Amerika Serikat dan sekutu serta mitra kami. Ia mendukung jaringan teroris di seluruh kawasan.”
Bruce juga menegaskan kembali sikap tegas Presiden Donald Trump terhadap ambisi nuklir Iran.
“Presiden telah menegaskan bahwa Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir. Yang kami harapkan, seperti yang dikatakan Menteri Rubio, adalah bahwa di bawah Donald Trump, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir,” ungkapnya.
Ia meminta Iran untuk menghentikan eskalasi nuklirnya, pengembangan rudal balistik, dan kampanye militer regional, serta mengakhiri penindasan terhadap rakyatnya dan aktivitas Garda Revolusi yang mengganggu stabilitas.
Komentar Bruce muncul di tengah ambiguitas yang terus berlanjut seputar kebijakan pemerintahan Trump terhadap Afghanistan dan Taliban. Meskipun menyebut Taliban sebagai kelompok teroris, delegasi AS baru-baru ini mengunjungi Kabul dan mengadakan pertemuan dengan pejabat Taliban, yang memicu spekulasi kemungkinan keterlibatan diplomatik.
Sementara analis melihat kunjungan ini sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk menormalisasi hubungan dengan Taliban, pemerintah belum mengklarifikasi strategi jangka panjangnya.
Bulan lalu, J.D. Vance, Wakil Presiden di bawah Presiden Trump, melabeli Taliban sebagai “kelompok teroris paling berbahaya di dunia” dalam pidatonya di hadapan pasukan AS di Greenland, dan mengkritik penyitaan peralatan militer Amerika oleh kelompok tersebut menyusul penarikan pasukan AS dari Afghanistan pada tahun 2021.
Meskipun ada pernyataan tegas ini, Washington belum secara resmi mengumumkan kebijakan komprehensif terhadap Taliban, sehingga pertanyaan tentang keterlibatan AS di masa mendatang belum terjawab. (hanoum/arrahmah.id)