(Arrahmah id) – Dr. Abdullah Al-Muhaisuni adalah seorang ulama dan hakim syariah yang dikenal luas di medan jihad Suriah. Beliau berperan dalam berbagai inisiatif rekonsiliasi antar faksi serta aktif memberikan nasihat kepada para pejuang dan masyarakat. Dengan latar belakang keilmuan syariah yang kuat, beliau selalu menekankan pentingnya persatuan dan ketaatan kepada kepemimpinan yang sah dalam perkara yang baik.
Dalam situasi yang penuh gejolak, Dr. Al-Muhaisini menyampaikan sebuah nasihat yang mendalam bagi rakyat Suriah dan para pejuang revolusi. Beliau menyoroti pentingnya persatuan, ketaatan kepada pemimpin dalam perkara yang baik, serta urgensi mengesampingkan perbedaan internal demi menghadapi tantangan besar di masa depan.
Melalui tulisan ini, beliau menegaskan bahwa perjuangan bukan hanya soal memenangkan pertempuran, tetapi juga tentang menjaga kestabilan negeri yang telah diperjuangkan dengan darah dan pengorbanan. Dengan segala ujian yang menghadang—mulai dari blokade ekonomi hingga potensi konspirasi eksternal—Suriah membutuhkan solidaritas yang kokoh dari seluruh elemen masyarakat.
Nasihat ini juga menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang telah teruji harus didukung dengan kesabaran dan nasihat yang baik, bukan dengan perpecahan yang melemahkan. Dr. Al-Muhaisini menutup dengan seruan agar seluruh rakyat Suriah menjadi pilar yang kuat bagi pemimpinnya dalam menghadapi tantangan besar yang ada di depan.
***
Hari ini, aku merasakan kesedihan sekaligus kebahagiaan. Maafkan aku jika kata-kataku menyakitkan.
Terima kasih kepada Allah ﷻ atas segalanya. Dalam unggahan sebelumnya, aku mengucapkan selamat dan bergembira atas terbentuknya Dewan Syariah. Namun, justru aku menjadi sasaran hinaan dan tuduhan makar yang bertubi-tubi! Bagaimana bisa ucapan selamat kepada Mufti Ash’ari dianggap sebagai hal yang keliru?
Sekarang, aku menyendiri di Baitullah dan berdoa. Kepada siapa saja yang menghina aku karena cintaku pada agama Allah ﷻ, semoga Allah ﷻ mengampuni dosa-dosanya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Saudara-saudaraku, ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku, dan aku ingin menyampaikannya. Demi Allah ﷻ, aku menganggap kalian, warga Syam, sebagai keluargaku, dan Al-Raed tidak akan berbohong kepada keluarganya.
Pertama: Aku tidak memiliki jabatan atau kedudukan apa pun di negara baru ini. Hal ini justru meringankan bebanku di hadapan Allah ﷻ. Aku tidak menulis ucapan selamat dan pembelaan ini demi kepentingan pribadi. Allah ﷻ Maha Mengetahui niatku. Aku telah berjuang di negeri ini, menjadikannya prioritas utamaku. Harapanku hanyalah agar pengorbanan kita semua tidak sia-sia.
Kedua: Banyak saudara kita, terutama mereka yang turut serta dalam revolusi, masih menganggap Syaikh al-Julani (Ahmad Asy-Syaraa) sekadar pemimpin faksi. Mereka belum menyadari bahwa kini ia adalah kepala negara secara hukum, pemegang amanah yang besar. Kedudukannya dalam syariat pun telah berubah. Ketaatan kepada pemimpin adalah bagian dari ajaran agama kita:
“Barang siapa menaati pemimpin, maka ia telah menaati perintah Allah ﷻ.”
“Barang siapa melihat keburukan pada pemimpinnya, hendaklah ia bersabar.”
Sebagai seorang pemimpin, ada aturan syariat yang berlaku padanya:
- Ia harus ditaati dalam hal kebaikan.
- Martabatnya tidak boleh direndahkan.
- Dalam urusan ijtihad, pendapatnya memiliki bobot yang lebih besar.
Inilah prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah. Agama ini tidak boleh kita pilih-pilih hanya sesuai dengan hawa nafsu kita.
Namun, ini tidak berarti pemimpin tidak bisa dikritik. Tidak! Demi Allah ﷻ, aku pun menasihatinya setiap kali bertemu. Aku juga memohon ampun kepada Allah ﷻ setiap hari di bulan Ramadhan.
Saudara-saudaraku,
Allah ﷻ telah menganugerahkan kita seorang pemimpin yang telah teruji dalam perjuangan. Ia adalah orang yang baik, dan kepemimpinannya adalah nikmat yang harus kita syukuri. Jangan biarkan hawa nafsu kita menyesatkan!
Bersabarlah terhadap saudaramu, nasihatilah, dan bantulah dia. Ada sebagian orang yang hanya ingin menikmati kemenangan tanpa menerima konsekuensinya. Ketika presiden berusaha memberi pengampunan, mereka tetap tidak puas! Padahal, pengampunan inilah yang menjadi bagian penting dalam perjalanan negara ini mengatasi berbagai rintangan.
Aku menerima kemenangannya, maka aku juga menerima metodenya. Aku bersumpah demi Allah ﷻ, banyak hal yang aku tidak setujui dengannya, tetapi setelah merenungkannya, aku menyadari kesalahanku sendiri.
Ketiga: Mengenai masalah Asy’ari dan Salafi
Saudara-saudaraku, Kaum Salafi di Suriah memang mengalami banyak kesulitan, dan aku memahami itu. Namun, tugas presiden sekarang adalah menjadi pemimpin bagi seluruh rakyat, bukan hanya satu kelompok. Ini adalah satu-satunya cara untuk menghadapi tantangan besar yang akan datang: blokade ekonomi, konspirasi, pemberontakan, potensi mobilisasi Iran, dan berbagai ancaman lainnya.
Presiden tidak ingin mengecualikan Salafi atau Asy’ari. Dewan Syariah pun melibatkan kedua pihak, terdiri dari para ulama yang agamanya kita percayai dan kesalehannya kita nilai baik.
Perselisihan antara Salafi dan Asy’ari seharusnya menjadi ranah diskusi para ulama, bukan sesuatu yang memecah belah umat Islam. Demi Allah ﷻ, aku mengenal ulama besar kita seperti Syaikh Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, dan Al-Ghunaim. Mereka adalah orang-orang yang pemaaf dan bijaksana. Ketegangan dalam perbedaan seperti ini biasanya hanya muncul dari mereka yang baru belajar dan belum memahami hakikat ilmu yang sebenarnya.
Aku mohon maaf jika kata-kataku terasa keras, tetapi demi Allah ﷻ, kita tidak boleh tersesat karena iri hati terhadap negeri ini. Bertakwalah kepada Allah ﷻ, jadilah pendukung dan penolong bagi pemimpin kalian. Jika ada yang menganggap ini sebagai bentuk marginalisasi atau keberpihakan yang tidak adil, ingatlah bahwa revolusi ini milik Allah ﷻ, dan Allah ﷻ tidak akan menyia-nyiakan perjuangan kita.
Dr. Abdullah Al-Muhaisini
Bebaskan Suriah
(Samirmusa/arrahmah.id)