GAZA (Arrahmah.id) – Kurang dari 24 jam setelah membunuh anggota Biro Politik Hamas Salah al-Bardawil dengan mengebom tenda pengungsiannya di wilayah Al-Mawasi barat Khan Yunis, pasukan pendudukan ‘Israel’ kembali membunuh rekan sejawatnya di Biro Politik, Ismail Barhoum.
Sebuah pesawat tempur ‘Israel’ menyerang Barhoum saat sedang menjalani perawatan di Kompleks Medis Nasser kemarin malam (23/3/2025). Menurut sumber medis, keluarga, dan organisasi, Barhoum sebelumnya mengalami luka parah dalam serangan udara ‘Israel’ yang menargetkannya di Rafah pada malam pertama dimulainya kembali perang ‘Israel’ terhadap Gaza, Selasa dini hari lalu.
Pembunuhan Barhoum mengakibatkan gugurnya ia bersama sepupunya, Ibrahim Barhoum – yang juga sedang dirawat karena luka sebelumnya – serta melukai 8 orang lainnya termasuk pasien dan korban luka yang dirawat di bangsal bedah rumah sakit. Serangan ini juga menghancurkan bangsal bedah hingga tak bisa beroperasi sama sekali.
Sejak kembali melancarkan perang brutal di Gaza, pasukan pendudukan telah melakukan serangkaian pembunuhan yang menargetkan tokoh-tokoh pemerintah, administrasi, keamanan, dan pemimpin politik Hamas.
Mata Rantai Pembunuhan
Ismail Barhoum, yang dijuluki Abu Muhammad, lahir di Rafah pada 1960-an. Sejak kecil ia dikenal religius dan termasuk generasi pertama Hamas sejak pendiriannya saat Intifada Pertama 1987.
Barhoum meniti karier di Hamas hingga terpilih sebagai anggota Biro Politik di dalam Gaza pada Maret 2021. Menurut sumber lokal, ia berasal dari keluarga besar di Rafah yang banyak anggotanya menjadi syuhada, korban luka, atau tahanan. Ia dikenal sebagai aktivis kemanusiaan dan tokoh rekonsiliasi sosial.
Hamas dalam pernyataan dukanya menyebut Barhoum sebagai “pilar gerakan di Gaza, teladan keteguhan dan pengorbanan yang mengabdikan hidupnya untuk rakyat, agama, dan perjuangan Palestina.” Hamas mengecam pembunuhan ini sebagai “kejahatan baru dalam catatan teror ‘Israel’ yang mengabaikan norma dan hukum internasional.”
Pembunuhan Pasien yang Sedang Dirawat
Dr. Atef Al-Hout, Direktur Kompleks Medis Nasser, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Barhoum sedang dirawat di bangsal bedah pria akibat luka dari serangan beberapa hari sebelumnya.
“Kami bekerja berdasarkan prinsip etika, profesionalisme, dan kemanusiaan. Kami merawat semua pasien tanpa memandang latar belakang,” tegas Al-Hout yang menyebut serangan ini sebagai “kejahatan yang melanggar semua hukum dan norma internasional.”
Ini bukan pertama kalinya Kompleks Medis Nasser diserang ‘Israel’. Sebelumnya pada Desember 2023, pasukan pendudukan mengepung dan menghancurkan bagian rumah sakit ini selama invasi besar-besaran ke Khan Yunis selama 4 bulan. Saat ini hanya tersisa 3 rumah sakit yang masih beroperasi di selatan Gaza setelah ‘Israel’ melumpuhkan 25 fasilitas kesehatan sejak perang dimulai.
Target: Menciptakan Kekacauan
Dr. Ismail Al-Thawabteh, Direktur Kantor Media Pemerintah, menyatakan bahwa pembunuhan tokoh-tokoh pemerintahan dan pemimpin politik merupakan bagian dari upaya ‘Israel’ untuk melemahkan sistem pemerintahan, melumpuhkan lembaga sipil dan pelayanan publik, menciptakan kekosongan administrasi dan keamanan, serta menimbulkan kekacauan sosial.
Namun Al-Thawabteh menegaskan bahwa pemerintah Gaza memiliki sistem suksesi kepemimpinan yang mampu menggantikan para syuhada dan mempertahankan stabilitas.
Skenario “Hari Berikutnya”
Sementara itu, Salah Abdul Ati, Ketua Lembaga Internasional untuk Dukungan Hak Rakyat Palestina, meyakini pembunuhan ilegal ini bertujuan untuk menjadikan Gaza sebagai wilayah yang tidak layak huni, memaksa pengungsian massal, menghancurkan kapasitas pemerintahan Hamas dan menciptakan kekacauan sebagai prasyarat “hari berikutnya” pasca-perang.
Untuk menghadapinya, Abdul Ati menyerukan pembentukan komite rekonsiliasi nasional untuk memperkuat ketahanan masyarakat dan menggagalkan rencana pembersihan etnis ‘Israel’.
Tekanan untuk Menyerah
Hani al-Masri, Direktur Pusat Studi Politik Masarat, berpendapat pembunuhan ini bertujuan untuk menghancurkan struktur kepemimpinan Hamas, memaksa Hamas menyerah dan mengeksploitasi periode gencatan senjata untuk mengumpulkan intelijen.
Meski mengakui dampak serangan ini terhadap Hamas, al-Masri menegaskan mustahil ‘Israel’ bisa menghancurkan Hamas sepenuhnya. Ia menyerukan pembentukan pemerintah persatuan nasional sekaligus mengingatkan pentingnya mempertahankan Hamas sebagai bagian dari perlawanan nasional selama pendudukan masih berlangsung. (zarahamala/arrahmah.id)