PARWAN (Arrahmah.id) – Mohammad Idris Anwari, Gubernur Parwan, menyatakan dalam sebuah pertemuan publik di distrik Siah Gerd bahwa kelompok-kelompok tertentu di luar negeri bersekongkol untuk melawan Imarah Islam Afghanistan.
Gubernur tidak menyebutkan nama individu atau kelompok tertentu, namun menekankan bahwa pemerintah tidak akan mengizinkan siapa pun untuk mencampuri urusan dalam negeri.
Pertemuan ini diadakan untuk meningkatkan koordinasi antara pemerintah daerah dan masyarakat, lansir Tolo News (26/2/2025).
Dalam pertemuan tersebut, Mohammad Idris Anwari mengatakan: “Mereka duduk di negara-negara kafir, mengharapkan persahabatan dari orang-orang kafir, Yahudi, dan Kristen, dan mereka ingin mereka membawa perdamaian ke tanah air mereka, padahal hal ini bertentangan dengan sistem ilahi.”
Mohammad Javid Ziaurrahman, kepala polisi provinsi Parwan, juga menyatakan dalam pertemuan tersebut: “Musuh-musuh Islam tidak pernah menginginkan hukum ilahi diterapkan di tanah Allah dan selalu menentangnya. Hari ini, mereka telah dikalahkan dan tidak bisa lagi melawan, yang merupakan masalah mereka sendiri. Namun, kapanpun mereka merasa bahwa jihad ini telah berakhir, mereka akan kembali lagi.”
Warga distrik Siah Gerd menyatakan dalam pertemuan tersebut bahwa mereka menghadapi tantangan serius karena kurangnya pusat kesehatan, bangunan sekolah, kondisi jalan yang buruk, dan akses terbatas ke jaringan telekomunikasi. Mereka meminta para pejabat untuk mengatasi masalah-masalah ini.
“Masalah yang dihadapi masyarakat kami adalah tidak adanya infrastruktur telekomunikasi, jalan, sekolah, dan jembatan di atas sungai. Kekurangan ini telah menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi masyarakat,” ujar Hashmatullah Hayati, seorang penduduk distrik Siah Gerd.
“Masalah pertama yang kami hadapi adalah pengangguran di kalangan anak muda. Ratusan anak muda kami telah lulus, tetapi tidak ada peluang kerja bagi mereka. Masalah kedua adalah kondisi sekolah; kami memiliki sekolah, tetapi banyak yang belum selesai dibangun, dan para siswa terpaksa belajar di atas tanah,” ujar Nasrullah Azizi, warga distrik Siah Gerd.
Warga di berbagai provinsi secara konsisten mendesak para pejabat setempat untuk mengatasi tantangan publik dengan melaksanakan proyek-proyek pembangunan dan menciptakan lapangan kerja. (haninmazaya/arrahmah.id)